Headlines News :
Home » » Naval Diplomacy KRI Bung Tomo 357 Dongkrak Martabat Bangsa ke Internasional

Naval Diplomacy KRI Bung Tomo 357 Dongkrak Martabat Bangsa ke Internasional

Written By Redaksi on Rabu, 16 Maret 2016 | 03.19.00


SURABAYA - Lebanon, Disinilah Pentingnya "Naval / Military Diplomacy", keberadaan kita berdampak pada cara pandang bangsa lain akan kemampuan militer Indonesia sehingga menempatkan tingginya martabat bangsa kita.

"Jangan hanya Jago Kandang", tatap matanya buat mereka yakin akan kemampuan kita bermain dengan elegant dalam arena,”

“Sehingga mereka tidak sadar berdiri dan memberikan Standing Applause atas kekagumannya selanjutnya mengharapkan kita menjadi mitra yang konstruktif,”.

Demikian yang dikatakan oleh Komandan KRI Bung Tomo-357 Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan, S.T. selaku Dansatgas Maritim TNI Kontingen Garuda XXVIII-H/UNIFIL TA. 2015, saat menghadiri acara Contico and Commanders Conference. Senin (14/03/2016).

Kegiatan yang digelar di CR-2 UNIFIL HQ Naqoura Lebanon, dihadiri Force Commander UNIFIL, Major General Luciano Portolano, MTF (Maritime Task Force) Commander RADM. Claudio Henrique Mello De Almeida,  Chief of Staff UNIFIL Brigadir General Mitchel Grintchenko beserta seluruh Komandan Satgas dibawah UNIFIL (United Nations Interim Forces in Lebanon).

Dikatakan Force Commander UNIFIL Major General Luciano Portolano, bahwa kontingen yang ada di UNIFIL harus fleksible, adaptable dan pro aktif.

Para Komandan harus mengontrol anak buah diantaranya; mencegah kekerasan seksual, mensupport kebijakan pemerintah lokal, bekerja secara serius, menjamin keamanan dan keselamatan anak buah serta tidak pergi ke tempat-tempat terlarang.

MTF Commander RADM. Claudio Henrique Mello De Almeida, menghimbau kepada Satgas Maritim agar melaksanakan MIO (Maritime Interdiction Operation) di daerah AMO (Area Maritime Operations) secara optimal serta mewujudkan stabilitas dan keamanan perairan teritorial Lebanon.

Satu hari sebelumnya tepatnya pada hari Minggu (13/03/2016), KRI Bung Tomo-357 yang bertugas di Lebanon sebagai Peacekeeper mendapat tamu kehormatan Chief Air Operation UNIFIL (United Nations Interim Forces in Lebanon) Colonel Itaf Avola Filippo (Italia Air Force) beserta Chief Of J5 Colonel Borgia (Italia Army) dan Chief Of Force Provost Marshal UNIFIL LT. Colonel Francesco Maretto (Italia Carabinieri).

“Kunjungan ini selain menjalin silaturahmi yang sudah berjalan lama antara pihak Satgas Kontingen Garuda dengan Satgas Italia yang tergabung sebagai pasukan perdamaian di Lebanon, juga mengenal lebih dekat khususnya TNI Angkatan Laut dan berbagai potensi yang dimiliki Indonesia, justru disinilah peran vital dalam mengimplementasikan “Naval Diplomacy” yang akan berdampak strategis terhadap cara pandang bangsa lain terhadap Indonesia dari berbagai aspek melalui “soft power diplomacy”.

Dengan melihat secara langsung kemampuan prajurit yang profesional dan militan, alutsista modern dengan kesiapan tempur yang tinggi serta lingkungan kerja yang tertata dengan baik. Hal tersebut mencerminkan kemampuan sebuah negara dalam menyiapkan kemampuan militernya mengamankan kepentingan nasionalnya di berbagai belahan dunia.

Inilah pesan yang tersampaikan kepada dunia internasional tentang kemampuan militer Indonesia, ditambah lagi prestasi yang diraih selama bergabung dalam Unifil, Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-H/UNIFIL KRI Bung Tomo-357 memiliki reputasi disegani antar unit Maritime Task Force (MTF) dari Jerman, Yunani, Bangladesh, Turki dan Brazil karena pencapaian operasi dilapangan yang menonjol, disiplin yang tinggi, kualitas latihan bersama yang membanggakan dan tidak mudah menyerah mengahadapi keganasan gelombang di Mediterania, hal tersebut diakui oleh Rear Admiral (RADM) Flavio Macedo Brasil sebelum serah terima dengan MTF Commander yang baru” kata Dansatgas Maritim TNI.

Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) memiliki peran yang unik sebagai media berdiplomasi sama seperti negara-negara besar lainnya yang memiliki kekuatan Angkatan Laut modern. Kehadirannya ke berbagai arena selalu membawa pesan yang ingin disampaikan baik kepada sasaran tujuan maupun masyarakat internasional tentang kemampuan dan kedigdayaannya mengamankan kepentingan nasionalnya.

Naval Soft Power Diplomacy dilaksanakan melalui kerjasama latihan seperti yang lazim dilaksanakan oleh TNI AL dengan berbagai negara seperti Carat dengan US Navy, Sea Eagle dengan Singapura, Helang Laut dengan Brunai Darusalam, New Horizon dengan Australia maupun dengan sejumlah negara lain baik dalam konteks Latihan bersama maupun patroli terkoordinasi (Corpat).

Moments tersebut tidak boleh dianggap remeh karena akan berdampak strategis diperhitungkannya kemampuan militer kita oleh negara yang bersangkutan, seperti halnya saat pelaksanaan Multilateral Exercise Kakadu 2012 yang diikuti sejumlah kapal perang di kawasan Asia Pasifik dan observer dari sejumlah negara Eropa di Darwin Australia, KRI Frans Kaisiepo 368 saat itu dikomandani oleh Dansatgas Maritim TNI Konga XXVIII-H/UNIFIL menyabet predikat juara 1 dan 2 saat Harbour Phase dan penampilan yang mengagumkan dalam berbagai serial latihan manuver lapangan sehingga Australian Navy memberikan penghargaan “The Most Impresive Ship”.  
Naval Hard Power Diplomacy dilaksanakan oleh kekuatan Angkatan Laut suatu negara untuk memberikan tekanan terhadap negara / sasaran agar merubah kebijakannya sesuai dengan yang diharapkan.

Saat ini dapat kita saksikan dalam konflik Laut Cina Selatan dimana US Navy dan negara lainnya yang memiliki kepentingan di kawasan tersebut menghadirkan kekuatan Angkatan Lautnya untuk membuktikan kredibilitas penguasaan kawasan sengketa.

Kesamaan kedua metode Naval Diplomacy (hard / soft power) adalah untuk mempengaruhi cara pandang sasaran agar sesuai dengan yang diharapkan guna mengamankan kepentingan nasional suatu negara tanpa adanya konflik bersenjata.

Perbedaan kedua metode tersebut adalah dalam implementasinya, soft power diplomacy dilaksanakan untuk menstimulasi sasaran mengakui kredibilitas dan kemampuan suatu negara dengan melihat kemampuan militernya yang tangguh, modern, profesional melalui kemitraan sedangkan hard power diplomacy harus berdampak pada daya getar yang tinggi (deterrence effect) yang agresive dan mematikan sehingga sasaran mengurungkan niatnya untuk berperang sebelum perang tersebut dimulai. (q cox, Ts)
Share this article :

Subscrib Me

Subscribe via RSS Feed If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
 
I Pedoman Media Siber | Syarat Dan Ketentuan | Redaksi
Powered by SuaraPekerja
Copyright © 2011. Jatim Today | Portal Berita Jawa Timur - All Rights Reserved
Design by Creating Website Published by Mas Template