x

Penjual Es Tebu Seksi di Mojokerto, Bikin Segar Tenggorokan dan Mata

waktu baca 4 menit
Selasa, 12 Des 2023 05:25 0 243 Redaksi

MOJOKERTO, Jatim Today – Sepanjang jalan Bypass Mojokerto terkenal dengan fenomena penjual es berpenampilan seksi dan berparas cantik. Tepatnya di area perbatasan Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

Keberadaan warung es tebu itu memang telah lama menjamur. Penjaganya didominasi para wanit. Paras dan penampilannya pun tak laiknya seorang penjual es. Berpenampilan cantik sudah menjadi tuntutan untuk menarik pembeli. Terlebih lagi, warung-warung es tebu ini bersaing satu sama lain.

Dengan begitu, mereka pun sukses mencuri perhatian berkat kecantikan dan keseksiannya, hingga jadi jujugan para pria untuk sekadar melepas dahaga. Tak heran, jika mereka sering kali mendapat godaan dari pelanggan. Bahkan ada saja pelanggan yang meminta nomor telepon atau WhatsApp maupun mengajak untuk kencan.

Hal itu diakui oleh Wanda, salah satu penjual es tebu. Meski begitu, wanita berusia 24 tahun asal Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto ini menganggap godaan adalah hal lumrah dan bagian dari tantangan.

Janda anak satu ini mengaku kerap mendapat godaan dari pelanggan. Kendati demikian, ia belum pernah mendapat perlakuan tak sopan dari para pelanggannya. Godaan-godaan yang ia terima hanya sebatas diajak kenalan hingga diminta nomor WhatsApp (WA). Modusnya ingin jadi pelanggan.

“Banyak (minta nomor WA) untuk jadi pelanggan katanya, tujuannya menghubungi nanti bungkus berapa gitu. Kadang-kadang ada yang mengajak kencan. Saya biasa saja, karena niat saya hanya disini kerja. Yang penting mental,” katanya saat ditemui di lapak jualannya, Jumat, 8 Desember 2023.

Deretan warung es tebu di tepi jalan trans Nasional ini rata-rata buka mulai pukul 10.00 – 16.00 WIB. Masing-masing warung tersedia kursi bambu panjang untuk duduk pengujung. Tak ada minuman lain selain es tebu. Makanannya pun hanya goreng.

Berpenampilan cantik sudah menjadi tuntan karena untuk menarik pengujung. Namun ternyata penghasilannya tak sebanding.

Pekerjaan Wanda memang tidak terlalu berat. Ia hanya ditugaskan melayani pembeli. Yakni, menuangkan es batu dan sari tebu ke dalam gelas, serta mencuci gelas-gelas kotor. Sementara menggiling tebu menjadi tugas pemilik warung.

Satu botol es tebu ukuran 600 ml, ia jual dengan tarif Rp 10 ribu. Sedangkan satu gelas es tebu dipatok harga Rp 5 ribu. Satu botolnya bisa menjadi dua gelas. Untuk gorengan, Rp 2 ribu per biji.

Wulan mengaku, upah yang diberikan setiap harinya oleh pemilik warung tidak pasti. Tergantung berapa botol es tebu yang berhasil terjual. Dalam sehari, mampu terjual 15 sampai 30 botol.

Dari satu botol es tebu, Wulan mendapat komisi Rp 3 ribu. Sedangkan 1 gorengan Rp 1000. Terkadang, ia juga mendapat penghasilan tambahan dari pengujung yang berbaikan hati. Ia menyebutnya uang tip atau komisi, sekitar Rp 10 sampai 50 ribu.

“Rata-rata sehari kalau sepi dapat Rp 80 ribu. Kalau ramai sampai Rp 100 -120 ribu. Itu sudah bersih untuk saya, termasuk tip ,” ungkap Wulan.

Pengalaman serupa juga dialami penjual es tebu lain, Wulan. Wanita berusia 27 tahun ini mengaku cukup sering digoda. Bahkan secara blak-blakan, wanita asal Jombang ini mengaku tak hanya sekadar mengajaknya kencan untuk memadu kasih sebagai pacar. Jauh lebih ekstrim, banyak pria mengajak untuk tidur bareng.

“Sering ada yang minta nomor WA, tanya open booking, open song. Modusnya biar jadi langganan. Saya suda biasa,” ujarnya janda dua anak ini.

Meski begitu, ia tak ambil pusing. Ia memilih untuk langsung menolak. Namun ia mengungkapnya, memang ada 1-2 penjaga es tebu yang menerima tawaran-tawaran itu.

“1-2 orang kan pasti ada yang kayak gitu (tawaran kencan/open booking), tapi bukan berarti semuanya mau, itu lah merusak citra wanita disini. Kalau aku mending saya kasarin, mau balik kesini atau nggak ya terserah, rejeki nggak dari situ saja kan,” beber Wulan.

Wulan sendiri sudah bertahun-tahun bekerja sebagai penjaga warung es tebu milik orang. Setahun terakhir ini, warung ia jaga adalah miliknya sendiri.

Ia biasa membuka warungnya pukul 10.00 – 16.00 WIB. Omzet per hari mencapai Rp 300 ribu.

“Minimal kalau aku minim sepi Rp 80-100 ribu. Kalau ramai Rp 300 ribu,” katanya.

Wulan tidak terlalu memperhatikan penampilanya. Ia pun mengaku hanya berdandan sederhana. “Make up ala kadarnya. Kalau aku sih orang mampir atau tidak terserah ya. Laku ya sudah, kalau nggak ya tidak apa-apa,” cetusnya.

Redaksi

Media Online Jawa Timur yang dikemas dengan bahasa santun, inspiratif dan faktual.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x