Drone Sprayer Jadi Magnet Anak Muda, Pertanian Jatim Mulai Masuki Era Baru

jatimtodaycom
12 Sep 2025 07:07
2 menit membaca

Surabaya, Jatim Today – Modernisasi pertanian di Jawa Timur tidak hanya berpengaruh pada peningkatan produksi, tetapi juga mulai mengubah wajah dunia tani. Hadirnya teknologi seperti drone sprayer disebut mampu menarik minat generasi muda untuk kembali terjun ke sektor pertanian.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Heru Suseno, menyebut penggunaan teknologi kini tak lagi bisa dipisahkan dari aktivitas bertani. “Drone sprayer bukan hanya alat bantu penyemprotan. Teknologi ini jadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal pertanian yang lebih modern, tidak lagi identik dengan lumpur dan cangkul semata,” ujarnya, Jumat (12/9/2025).

Menurut Heru, Pemprov Jatim sudah mulai mengalokasikan drone sprayer ke Kabupaten Tuban dan Lamongan. Upaya ini bersamaan dengan distribusi berbagai alat mesin pertanian (alsintan) lain seperti transplanter, cultivator, hingga combine harvester. “Semua diarahkan agar petani bekerja lebih cepat, efisien, sekaligus menarik bagi anak-anak muda,” katanya.

Fenomena keterlibatan anak muda dalam sektor pertanian belakangan memang menjadi perhatian serius. Sebab, jumlah petani berusia produktif terus menurun. Dengan modernisasi, sektor ini diproyeksikan lebih menjanjikan dan mampu menghadirkan keuntungan ekonomi yang nyata.

Data BPS terbaru menunjukkan, sepanjang Januari–Juli 2025, luas panen padi di Jawa Timur naik 13,40 persen dibanding tahun lalu. Produksi padi juga melonjak hingga 8,78 juta ton GKP. Angka tersebut membuktikan bahwa teknologi mendorong kenaikan produktivitas tanpa harus menambah tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Dulu panen sering terkendala tenaga buruh yang terbatas. Sekarang combine harvester bisa menggantikan puluhan orang dengan hasil lebih bersih dan cepat. Dari sisi biaya, petani juga lebih hemat,” tambah Heru.

Ia menilai, transformasi ini menandai kesiapan Jawa Timur memasuki era pertanian presisi, di mana penggunaan data, peta lahan, hingga pengelolaan input bisa dilakukan lebih akurat dengan dukungan teknologi. “Langkah awal sudah ada. Tinggal bagaimana memperluas aksesnya agar semua petani bisa merasakan manfaat,” jelasnya.

Lebih jauh, Heru meyakini modernisasi bukan sekadar soal mesin, tapi juga membangun citra baru sektor pertanian. “Kalau dulu pertanian dianggap pekerjaan kuno, sekarang anak-anak muda bisa melihatnya sebagai peluang bisnis berbasis teknologi,” tandasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *