Lewat SAR Goes to School, Siswa di Malang Belajar Penyelamatan Diri

jatimtodaycom
18 Sep 2025 06:53
2 menit membaca

Ratusan pelajar tingkat SMP dan SMA di Kota Malang mendapat pengalaman berbeda dari biasanya. Mereka dibekali pengetahuan dasar tentang penyelamatan dalam kegiatan Literasi SAR dan SAR Goes to School yang digelar di SMP Negeri 3 Kota Malang, Selasa (16/9/2025).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Direktorat Bina Potensi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Kantor SAR Kelas A Surabaya, serta Forum Komunikasi Potensi Pencarian dan Pertolongan Malang Raya (FKP3-MR). Sebanyak 320 siswa dari SMPN 3 dan SMAN 8 Kota Malang mengikuti rangkaian pembekalan sejak pagi hingga siang.

Sebelumnya, Senin (15/9/2025), dilakukan uji publik terhadap kurikulum pembelajaran literasi SAR yang disusun untuk tingkat TK/PAUD, SD, SMP hingga SMA sebagai bagian dari pengembangan Sekolah Literasi SAR.

Kasi Sumber Daya Kantor SAR Kelas A Surabaya, Wahyu Tri Agung P.H., mengatakan program ini bertujuan menanamkan budaya dan sikap kesiapsiagaan sejak dini.
“Melalui edukasi ini, kami berharap pelajar memiliki pengetahuan dasar tentang keselamatan. Sehingga mereka mampu menolong dirinya sendiri maupun orang lain ketika menghadapi situasi darurat,” ujarnya.

Materi yang diberikan meliputi teori mengenai substansi Basarnas dan kedaruratan, teknik pemindahan korban, perawatan pendarahan, hingga penanganan cedera patah tulang. Para siswa tampak antusias, bahkan berani mencoba langsung teknik pertolongan pertama yang diperagakan instruktur.

Guru pendamping dari SMPN 3 Kota Malang menyambut baik program ini. Menurutnya, siswa mendapatkan pengalaman berharga yang membentuk sikap tanggap darurat.
“Mereka belajar bahwa keselamatan adalah prioritas. Pengetahuan seperti cara membalut luka atau mengatasi patah tulang bisa sangat bermanfaat,” ujarnya.

Direktur Bina Potensi Basarnas, Agus Haryono, menegaskan bahwa SAR Goes to School bukan sekadar penyuluhan, melainkan bagian dari upaya membangun budaya sadar keselamatan di masyarakat.
“Dengan bekal ini, para pelajar diharapkan bisa menjadi agen perubahan di lingkungannya,” pungkas Agus.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *