Fenomena Komboan, Ikan Mabuk di Bengawan Solo Bikin Warga Lamongan Senang

jatimtodaycom
25 Okt 2025 08:10
2 menit membaca

Lamongan – Fenomena alam langka kembali terjadi di aliran Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Desa Keduyung, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Sabtu (25/10/2025). Warga setempat menyebut peristiwa ini sebagai komboan seiring banyaknya ikan-ikan di sungai mendadak mabuk dan muncul ke permukaan.

Sejak pagi, suasana di tepi sungai mendadak ramai. Puluhan warga berdatangan membawa ember, jaring, hingga serok. Anak-anak hingga orang dewasa tampak antusias, sebagian bahkan menuruni tanggul untuk ikut menangkap ikan. Suara tawa, percikan air, dan sorak kegembiraan terdengar di sepanjang bantaran sungai.

Air Bengawan Solo yang meluap hingga mencapai ketinggian sekitar 10 meter membuat sebagian wilayah sekitar Keduyung tergenang. Namun, kondisi itu justru dimanfaatkan warga. Banyak yang menaiki perahu kecil, berkeliling di permukaan sungai sambil mengintai ikan-ikan yang tampak lemas dan mudah ditangkap.

“Ikannya muncul banyak sekali, ada jambal, tombro, sampai nila besar. Warga di sini langsung heboh, ada yang membawa pulang satu ember penuh,” tutur Ismawan, warga Surabayan, Kecamatan Sukodadi, yang kebetulan sedang berkunjung ke lokasi.

Menurut Ismawan, fenomena ini sudah seperti tradisi musiman yang selalu dinanti masyarakat pesisir Bengawan Solo. Setiap kali air sungai meluap besar, selalu ada momen ketika ikan-ikan tampak mabuk, yang oleh warga dipercaya sebagai pertanda rezeki tambahan dari alam.

Warga meyakini bahwa ikan-ikan tersebut ‘mabuk’ karena perubahan kadar oksigen di air akibat arus deras dan lumpur yang terbawa dari hulu sungai. Namun sebagian lain menduga ada bahan alami dari tumbuhan atau limbah organik yang menyebabkan ikan kehilangan keseimbangan.

Menariknya, meski air sungai terlihat keruh kecokelatan, warga tetap berani menangkap ikan. Mereka beranggapan, fenomena ini sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu dan tidak pernah menimbulkan masalah kesehatan jika ikan segera dibersihkan dan dimasak.

Di tepi sungai, para ibu tampak sibuk menyiapkan perapian dari kayu bakar. Ikan hasil tangkapan langsung dibersihkan dan digoreng bersama keluarga. Aroma ikan goreng dan sambal tercium di udara, menambah semarak suasana komboan di siang itu.

Tak sedikit pula warga dari desa tetangga yang berdatangan setelah mendengar kabar fenomena ikan mabuk ini. Lahan kosong di sekitar tanggul berubah menjadi tempat parkir motor dan titik kumpul warga yang penasaran. Fenomena langka itu bahkan menarik perhatian beberapa konten kreator lokal yang datang merekam momen tersebut.

Meski begitu, sejumlah warga berharap pemerintah dan pihak terkait tetap memperhatikan kondisi Bengawan Solo. Fenomena komboan boleh jadi menarik dan membawa rezeki, tetapi juga menjadi tanda bahwa kualitas air sungai perlu dijaga agar tidak menimbulkan dampak ekologis di kemudian hari.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *