
Surabaya – Kebiasaan menabung masyarakat Jawa Timur kembali menjadi sorotan. Bukan sekadar rutin menyisihkan uang, warga provinsi ini ternyata mampu mencatatkan simpanan yang nilainya menembus Rp807 triliun, menjadikan Jatim sebagai provinsi dengan nominal simpanan terbesar kedua di Indonesia.
Kepala Kantor Perwakilan LPS II, Bambang S. Hidayat, menjelaskan bahwa posisi tersebut sudah konsisten dalam beberapa triwulan terakhir. Menurutnya, hal ini menunjukkan budaya menabung yang kuat sekaligus tingkat kepercayaan masyarakat Jatim terhadap perbankan yang terus meningkat.
“Kontribusi Jawa Timur secara nasional masih sangat tinggi. Dari sisi nominal, Jatim berada di posisi kedua dengan Rp807 triliun. Ini menunjukkan masyarakat kita punya kesadaran finansial yang baik,” ujarnya dalam agenda media briefing.
Bambang menambahkan, pertumbuhan simpanan di Jatim juga berjalan stabil. Secara year-on-year, jumlah simpanan tumbuh 4,6%, sementara pertumbuhan jumlah rekening menyentuh 5,65%. “Artinya, tidak hanya nominal yang naik, tetapi orang yang membuka rekening juga semakin banyak,” katanya.
Ia menilai, tingginya minat menabung tidak hanya berasal dari kalangan berpenghasilan besar, tetapi juga dari pelaku UMKM, pekerja harian, hingga keluarga muda yang mulai memahami pentingnya cadangan finansial. “Dari segi rekening, Jatim ada di posisi ketiga secara nasional. Jadi bukan hanya dana besar saja, tapi banyak masyarakat kecil yang juga aktif menabung,” tambahnya.
Menurut Bambang, LPS memastikan bahwa kepercayaan ini harus dijaga lewat pelayanan yang cepat dan transparan, terutama terkait penjaminan simpanan. Ia menyebut bahwa proses pembayaran klaim kini sudah jauh lebih cepat. “Sejak 2019, proses pembayaran klaim meningkat efisiensinya hingga 76,2%. Bahkan ada yang bisa dibayarkan hanya dalam lima hari kerja,” jelasnya.
Selain itu, LPS juga terus mengingatkan masyarakat agar memahami aturan penjaminan, termasuk risiko simpanan yang bisa tidak layak bayar jika bunganya melewati batas penjaminan atau tidak tercatat dengan baik.
“Ini penting. Kita ingin masyarakat menabung dengan aman,” ujar Bambang.
Ia menegaskan bahwa budaya menabung memiliki peran besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Ketika dana masyarakat tersimpan dengan baik di bank, lembaga keuangan bisa menyalurkan kredit lebih optimal untuk usaha dan konsumsi. “Ekonomi bergerak ketika masyarakat menabung dan meminjam dengan sehat,” katanya.
Dengan capaian nominal yang terus meningkat, masyarakat Jawa Timur kembali membuktikan bahwa disiplin finansial bukan sekadar kebiasaan, tetapi bagian dari karakter kolektif. Dari tabungan rumah tangga hingga simpanan besar dunia usaha, semuanya menjadi fondasi kuat bagi stabilitas ekonomi provinsi ini.
Tidak ada komentar