DipertaKP Jatim dan NTT Jalin Kerjasama Strategis Perkuat Ketahananan Pangan Nasional

jatimtodaycom
25 Nov 2025 06:06
4 menit membaca

Kupang – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DipertaKP) Provinsi Jawa Timur (Jatim) menandatangani perjanjian kerjasama strategis bersama DispertaKP Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Penandatanganan dilakukan oleh Kepala DipertaKP Dr Ir Heru Suseno dan Kepala DipertaKP NTT Joaz Bily Oemboe Wanda SP, disaksikan langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa serta Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma di Hotel Aston Kupang, Kamis (6/11/2025).

Heru mengatakan, penandatanganan ini menjadi tindak lanjut konkret dari misi dagang antara kedua provinsi serta menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antarwilayah khususnya di sektor pertanian, pangan maupun investasi.

“Penandatanganan kerjasama strategis tersebut bukan sekadar seremonial tanda tangan, melainkan wujud nyata komitmen kedua belah pihak untuk memperkuat ekosistem pangan nasional,” ujarnya.

Kerja sama kedua provinsi ini dikatakan Heru, mencakup transfer teknologi pertanian moderen, pengembangan sumber daya manusia terutama petani milenial, serta penguatan posisi Jawa Timur sebagai Hub Logistik Pangan Nusantara.

Adapun sejumlah produk asal Jatim yang menjadi incaran dalam forum dagang ini antara lain Kopi Robusta, Percetakan Kemasan Kopi, Produk Peternakan (Telur, Daging Ayam, Susu, Olahan Daging Sapi dan Ayam, DOC Ayam), Beras, Madu Murni dan Fermentasi, dan Mesin Pengurai Sabut Kelapa.

Selain itu juga Benih Tanaman Holtikultura, Cabai Merah Besar dan Cabai Rawit, Bahan Bangunan (Atap, Granite, Aksesoris Pintu Jendela), Shoun, dan Pupuk Bionira.

Di sisi lain, NTT menjual produk Ikan Tuna, Tuna Loin, Kelapa Utuh, Madu, dan Rumput Laut. Sementara untuk Jatim investasi antara lain Kandang Layer dan Broiler, Konsumsi dan Peralatan Dapur.

Heru berharap, pelaksanaan kerjasama nantinya menghasilkan lonjakan produktivitas, distribusi yang lebih efisien, serta nilai tambah bagi petani di kedua daerah.

“Kolaborasi strategis ini juga menjadi langkah penting dalam membangun ketahanan pangan berkelanjutan dari ujung barat hingga timur Indonesia,” tandasnya.

Seperti diketahui, perjanjian kerjasama strategis kedua instansi antar daerah tersebut berlangsung saat gelaran Misi Dagang dan Investasi antara Jatim dengan NTT yang dipimpin langsung Gubernur Khofifah Indar Parawansa.

Gelaran Misi Dagang Jatim-NTT berhasil membukukan transaksi dengan angka hampir Rp 1,9 Triliun. Capaian ini merupakan yang tertinggi sepanjang pelaksanaan misi dagang Jatim terhadap 10 provinsi lain di Indonesia pada tahun 2025.

“Alhamdulillah sampai dengan pukul 17.00 WITA tercatat transaksi Rp 1,882 Triliun lebih. Dari 46 perjalanan misi dagang kami, sampai dengan jam 17.00 WITA ini adalah transaksi tertinggi dalam misi dagang yang pernah kami lakukan,” kata Khofifah.

Dari total nilai tersebut, transaksi penjualan produk Jawa Timur mencapai Rp 1,727 triliun, disusul dengan pembelian produk dari NTT senilai Rp 102,183 miliar, serta komitmen investasi sebesar Rp. 52,500 miliar.

Hubungan dagang Jatim-NTT kata Khofifah, selalu menunjukan tren positif. Bahkan berdasarkan data BPS Perdagangan Antar Wilayah Jatim Tahun 2022, nilai perdagangan kedua provinsi mencapai Rp 5,29 triliun, terdiri atas nilai bongkar (pembelian Jatim dari NTT) sebesar Rp 533 Miliar dan nilai muat (penjualan Jatim ke NTT) sebesar Rp 4,76 triliun. Sehingga, neraca perdagangan Jawa Timur terhadap NTT surplus Rp 4,22 triliun.

Lima komoditas utama Jatim yang paling banyak dijual ke NTT meliputi beras (42,34%), makanan hewan (9,30%), mobil penumpang (7,78%), alat transportasi umum bermotor (5,06%), dan sepeda motor (2,5%). Sebaliknya, Jatim banyak membeli jagung (44,52%), kopi hijau (18,93%), buah berlemak (11,71%), bahan anyaman (6,79%), dan kakao (4,02%) dari NTT.

“Hubungan dagang antara Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur telah tumbuh dengan baik dan memberi manfaat ekonomi nyata. Kita ingin hubungan ini terus meningkat dan melahirkan banyak pelaku usaha baru yang siap naik kelas,” tegasnya.

Lebih lanjut ia mejelaskan, Jatim saat ini masih menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional dengan kontribusi 14,44% terhadap PDB Indonesia. Bahkan di triwulan II-2025, ekonomi Jatim tumbuh 5,23 persen (y-on-y), lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 5,12 persen.

Tak hanya itu nilai PDRB ADHB semester I-2025 tercatat mencapai Rp1.668,6 triliun. Dari sisi perdagangan, Jatim juga mencatat surplus Rp120,61 triliun pada semester I-2025, setelah pada tahun 2024 membukukan surplus Rp187,93 triliun dari total ekspor-impor dalam dan luar negeri.

“Capaian ini tentunya, tidak terlepas dari peran serta dan kerjasama yang baik dengan provinsi-provinsi mitra, termasuk provinsi NTT,” tutupnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *