Pemotor Asal Malang Meninggal Tertabrak Truk di Jalan Raya Tuban – Bancar

jatimtodaycom
12 Nov 2025 15:35
2 menit membaca

Tuban – Matahari baru saja meninggi. Namun udara lembab sisa embun pagi di Jalan Raya Tuban–Bancar, Desa Purworejo, Kecamatan Jenu, masih menyelimuti. Dari kejauhan, samar-samar terdengar deru kendaraan yang saling bersahutan, seperti alunan lagu rutin kehidupan di lintasan panjang tersebut.

Entah apa yang memenuhi pikirannya waktu itu. Mungkin tentang keluarga di rumah, atau karena terburu-buru segera tiba ke tujuan. Tak ada tanda-tanda jika perjalanan berkilo-kilometer itu bakal menjadi yang terakhir dalam hidupnya.

Beberapa meter di depan HS, sebuah truk tangki besar terparkir di sisi kiri jalan. Truk itu menghadap ke barat, diam dan berat, seperti raksasa yang kelelahan. Sedangkan sang sopir, Marsudi, sedang sibuk memeriksa ban yang bocor. Tak ada niat buruk, semua hanya kebetulan serta nasib yang mulai menulis garisnya sendiri.

Ketika HS semakin dekat, kecepatan motornya tak berkurang. Angin jalanan menampar wajahnya dan dalam sekejap mata, suara benturan keras memecah udara.
Tubuh HS terpental ke kanan, seperti sehelai daun kering yang tertiup badai.

Sepeda motornya terpelanting ke aspal dan sebelum sempat ada teriakan, sebuah truk lain datang dari arah timur. Truk itu tak sempa mengerem hingga tabrakan kedua kendaraan berlangsung dalam hentakan maut.

Semua terjadi cuma hitungan detik. Lalu jalan itu kembali hening. Hanya sisa serpihan kaca dan suara mesin yang masih berdengung pelan. HS terkapar di tengah jalan, tubuhnya tak bergerak, nafasnya berhenti.

Tak lama kemudian, petugas kepolisian tiba di lokasi. Iptu Eko Sulistiyono, Kanit Gakkum Satlantas Polres Tuban, memeriksa tempat kejadian dengan wajah datar yang menyembunyikan lelah dan rasa prihatin.

“Setelah menabrak truk yang parkir karena bannya bocor, korban terpental. Saat terpental itu, ia ditabrak lagi oleh truk lain yang belum diketahui identitasnya,” katanya perlahan, seolah menuturkan kisah yang sudah terlalu sering ia dengar, namun tak pernah bisa benar-benar terbiasa.

Polisi kemudian mengamankan barang bukti dan mencatat kerugian material sebesar satu juta rupiah. Tapi angka itu tak berarti apa-apa dibanding kehilangan nyawa.

Di pinggir jalan, Marsudi berdiri diam. Tatapannya kosong, menelusuri jejak ban di aspal. Angin kembali berhembus pelan, membawa bau solar, tanah, dan kematian yang masih hangat.

Dan di kilometer delapan belas itu, jalan raya Tuban–Bancar menambah satu cerita lagi. Tentang seorang pengendara yang hanya ingin pulang, tentang takdir yang menunggu di tikungan dan tentang hidup yang kadang berakhir tanpa peringatan, hanya meninggalkan sunyi yang panjang di atas aspal hitam yang dingin.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *