Pernyataan Lengkap Gus Yahya Usai Diminta Mundur dari Ketum PBNU

jatimtodaycom
23 Nov 2025 16:52
4 menit membaca

Surabaya – KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya akhirnya angkat suara setelah mencuat desakan agar dirinya mundur dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU). Seusai menggelar pertemuan dengan para ketua PWNU se-Indonesia pada Sabtu malam, ia menyampaikan penjelasan lengkap mengenai dinamika yang belakangan ramai diperbincangkan publik.

Dalam keterangannya, Gus Yahya menegaskan bahwa pertemuan itu digelar untuk memberi penjelasan langsung kepada PWNU mengenai situasi yang berkembang.

“Oke, malam ini ini saya bertemu dengan PWNU-PWNU dari seluruh Indonesia, alhamdulillah. Dan saya menjelaskan apa yang berlangsung dalam beberapa hari ini yang telah menjadi perbicaraan. Ya, alhamdulillah kemudian PWNU bisa mendapatkan pemahaman yang utuh tentang semua yang terjadi,” ujarnya, Sabtu (22/11/2025).

Menurutnya, PWNU diberi ruang untuk berkoordinasi dan merumuskan sikap secara independen. Ia menegaskan NU bukan milik personal ataupun PBNU semata, melainkan organisasi besar yang menjadi tanggung jawab seluruh pengurus di tiap tingkatan. Ia juga menilai PWNU memiliki kepentingan untuk turut mencari solusi terbaik karena persoalan ini berpotensi berdampak nasional.

Terkait isu surat keputusan Syuriah, Gus Yahya menegaskan belum pernah menerima dokumen fisik apapun. “Saya belum menerima secara fisik surat apapun dari Syuriah. Adapun yang disebut sebagai risalah yang beredar di media sosial itu juga tidak memenuhi standar teresmi dari dokumen resmi organisasi,” katanya. Ia menambahkan bahwa dokumen resmi PBNU menggunakan tanda tangan digital sehingga dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Karena itu, ia meminta publik berhati-hati terhadap beredarnya dokumen manual yang rawan dipalsukan.

Gus Yahya juga menegaskan tidak memiliki niat sedikit pun untuk mundur dari jabatan. Ia mengingatkan bahwa amanat Muktamar ke-34 memberinya mandat lima tahun, dan komitmen itu akan ia selesaikan. “Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur karena saya mendapatkan amanat dari Muktamar ini untuk 5 tahun maka saya sama sekali tidak terbersit pikiran untuk mundur,” tegasnya.

Selain itu, ia menilai rapat harian Syuriah tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan ketua umum berdasarkan AD/ART. “Memberhentikan fungsionaris yang lain saja tidak, apalagi ketua umum. Jadi kalau kemudian rapat harian syuriah ini menyatakan atau membuat satu implikasi untuk memberhentikan ketua umum maka itu tidak sah,” ucapnya.

Meski begitu, ia meyakini NU sebagai organisasi besar yang matang secara sejarah memiliki kemampuan menyelesaikan gejolak internal. “Insyaallah akan ditemukan jalan keluar yang baik untuk kemaslahatan bersama saya akan terus berupaya bergerak apapun yang bisa saya lakukan agar jalan keluar bisa ditemukan,” ujarnya.

PWNU Minta Gus Yahya Tetap Menjabat

Saat ditanya mengenai sikap PWNU, Gus Yahya menyebut mayoritas PWNU justru meminta dirinya tidak mundur. “Pertama-tama mereka mengatakan tidak mau saya mundur, mereka khawatir saya mundur. Karena mereka dulu memilih saya, mereka akan kecewa kalau saya mundur,” ungkapnya. Ia pun menegaskan sekali lagi bahwa tidak ada alasan untuk mengundurkan diri.

PWNU selanjutnya akan melakukan konsolidasi sendiri. Gus Yahya mengatakan penjelasan yang ia berikan bertujuan agar PWNU tidak digiring oleh rumor atau fitnah yang belakangan beredar.

Bantahan Isu Zionis dan Tambang

Gus Yahya juga menjawab isu yang menuding dirinya terafiliasi dengan Zionis dan memiliki kepentingan bisnis lain. Ia mengingatkan bahwa kunjungannya ke Israel pada 2018 sudah diketahui para pemilihnya saat Muktamar 2021.

“Saya itu tahun 2018 sudah pernah pergi ke Israel Tapi tahun 2021 Muktamar, Ketua Cabang dan PWNU memilih saya. Mereka sudah tahu saya sudah pernah ke Israel Karena mereka tahu apa yang saya lakukan di Israel pada waktu itu. Bahwa saya dengan terang-terangan dan tegas bahwa saya datang ke sini demi Palestina,” katanya.

Ia menyatakan sikapnya membela Palestina tidak pernah berubah dan akan tetap ia pegang.

Sudah Bertemu Sejumlah Kiai Syuriah

Terkait komunikasi dengan Syuriah, Gus Yahya menyebut sudah bertemu beberapa kiai. “Semua yang sudah saya temui menyesali. Karena mereka tidak mendapatkan informasi yang utuh pada mulanya. Ketika saya beri penjelasan mereka menyesal,” ujarnya. Ia berharap dalam waktu dekat bisa digelar pertemuan para kiai sepuh untuk memberikan suara moral dan mendorong jalan keluar terbaik bagi NU.

Saat ditanya apakah ia mencurigai ada tokoh tertentu yang menggiring isu, Gus Yahya menolak berspekulasi. Ia hanya menegaskan tidak akan bertindak berdasarkan rumor. Terkait hubungannya dengan Sekjen, ia menjawab singkat bahwa secara pribadi baik-baik saja, meski komunikasi sudah lama tidak terjadi.

Pertemuan Ulama Tetap Berjalan

Menjelang agenda pertemuan bersama ulama, ia menjelaskan pertemuan itu berbeda dengan koordinasi PWNU. “Kalau dengan ulama ya saya mohon nasihat, mohon doa biasanya kalau ketemu ulama sepuh itu saya enggak pernah ngomong, saya hanya minta dinasehati atau doa,” kata Gus Yahya.

Ia menutup pernyataan dengan komitmen untuk terus bekerja demi kemaslahatan umat, bangsa, dan NU.

Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa menjaga NU berarti menjaga wajah Indonesia. Karena itu, ia merasa berkewajiban untuk memastikan stabilitas organisasi tetap terjaga. “Jadi kalau NU-nya ini tidak baik, ya wajah Indonesia bisa jadi ikut tidak baik,” tutupnya.

Gus Yahya belakangan ini tengah diterpa isu pemakzulan dirinya dari posisi Ketum PBNU. Isu pemakzulan terungkap melalui dokumen Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU tanggal 20 November 2025. Dokumen risalah itu sendiri ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *