Hilang Semalam, Pria Paruh Baya Meninggal Tenggelam di Sungai Jagir Surabaya

jatimtodaycom
12 Des 2025 13:42
3 menit membaca

Surabaya – Pagi itu, tepian Sungai Jagir di kawasan Gunungsari ramai oleh beberapa petugas BPBD Surabaya. Pasukan penyelamatan ini nampak berdiri berjejer di atas perahu karet, sementara dua penyelam sudah bersiap dengan perlengkapan lengkap.

Embun belum sepenuhnya mengering ketika mereka kembali menapaki perairan yang sejak semalam telah menjadi pusat perhatian warga. Di tempat inilah, seorang pria paruh baya asal Wonokromo dilaporkan hilang tercebur pada Kamis (11/12/2025) malam.

DW, pria berusia 46 tahun, terakhir terlihat sekitar pukul 22.30 WIB oleh warga yang melintas di bantaran sungai. Laporan itu segera diteruskan ke Command Center 112, memicu pergerakan cepat petugas gabungan dari BPBD, Basarnas, hingga relawan setempat.

Namun pencarian pada malam hari kerap menghadirkan jalan buntu. Arus sungai yang tenang di permukaan ternyata menyimpan pusaran lemah di bawahnya, ditambah minimnya pencahayaan membuat area menjadi sulit dijangkau.

Ketua Tim Operasional Kedaruratan BPBD Surabaya, Arif Sunandar Pranoto Negoro, memutuskan pencarian dilanjutkan pada pagi hari. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Selain faktor keselamatan, penyelaman di sungai yang keruh lebih efektif saat cahaya matahari mulai mengangkat warna permukaan air.

Tepat pukul 07.00 WIB, dua personelnya turun ke titik yang sejak semalam menjadi fokus pencarian, titik yang disebut saksi sebagai lokasi terakhir DW terlihat sebelum tubuhnya hilang ditelan gelap.

Penyelaman dilakukan perlahan, menyisir dasar sungai yang berkedalaman sekitar tiga meter. Arif memantau dari atas perahu, sementara sejumlah warga yang sejak subuh berdatangan memilih menepi, berharap ada kabar apa pun. Beberapa dari mereka menutup mulut, sebagian lain memeluk pundak kerabat yang ikut cemas. Waktu seakan bergerak lebih lambat dari biasanya.

Tak sampai satu jam sejak penyelaman dimulai, ketegangan di tepian sungai akhirnya pecah. Sekitar pukul 07.48 WIB, salah satu penyelam memberikan isyarat tangan dari bawah permukaan air. Tim di atas perahu segera bergerak, dan dalam hitungan detik tubuh DW muncul perlahan, diangkat dengan hati-hati agar tidak mengganggu kondisi jenazah. Jasadnya ditemukan tidak jauh dari lokasi awal, seolah hanya menunggu arus tenang untuk memperlihatkan keberadaannya.

“Alhamdulillah, korban ditemukan di bawah permukaan air, di kedalaman sekitar tiga meter,” ujar Arif dengan nada lega yang tercampur kelelahan. Ia memahami bahwa di balik rasa syukur petugas yang berhasil menemukan korban, ada duka mendalam yang siap menyelimuti keluarga yang kini harus menerima kenyataan pahit.

Jenazah DW kemudian dibaringkan di tepi sungai, dimasukkan ke kantong jenazah, dan beberapa petugas tampak menundukkan kepala sejenak. Momen itu hening, hanya terdengar suara sungai yang mengalir perlahan seolah ikut mengantar kepergian pria itu. Tak lama kemudian, ambulans dari RS Bhayangkara datang untuk membawa jenazah ke kamar mayat guna pemeriksaan lebih lanjut.

Bagi warga sekitar, insiden ini menjadi pengingat bahwa sungai, seberapa pun akrabnya dalam aktivitas sehari-hari, tetap menyimpan risiko yang tidak bisa diremehkan.

Sementara bagi tim penyelamat, pagi itu kembali menegaskan bahwa setiap laporan darurat selalu menyimpan kisah manusia – tentang ketakutan, harapan, dan pada akhirnya, penerimaan. Pagi itu, Sungai Jagir kembali mengalir seperti biasa, tetapi bagi mereka yang menyaksikan, alirannya membawa pulang satu cerita duka yang tak akan cepat hilang.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *