
Lamongan – Suasana meriah terlihat di Dusun Tlogo, Desa Tlogorejo, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, saat sejumlah warga berbondong-bondong menuju sebuah telaga desa, Senin (22/9/2025). Mereka berkumpul bukan untuk sekadar mencari hiburan, melainkan mengikuti tradisi turun-temurun yang dikenal dengan nama Ngebur Telaga.
Tradisi tahunan ini menjadi momen paling ditunggu masyarakat setempat. Warga dari berbagai usia turun ke telaga untuk menangkap ikan secara beramai-ramai. Tawa, teriakan semangat, hingga canda gurau mewarnai suasana, menjadikan kegiatan ini bukan sekadar berburu ikan, melainkan juga ajang mempererat kebersamaan.
Semua ikan hasil tangkapan tidak diperjualbelikan, tetapi dibagikan secara cuma-cuma kepada warga sekitar. Tahun ini, panen ikan didominasi oleh ikan patin, yang selama ini dibudidayakan di telaga desa. Hasil tangkapan berupa ikan patin segar kemudian dibagikan merata kepada warga.
Bagi masyarakat Tlogorejo, keberadaan ikan patin tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi karena digemari pasar. Berbagi hasil tangkapan adalah simbol dari semangat gotong royong dan solidaritas yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan pedesaan.
Kepala Dusun Tlogo, Dedy, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mendukung program pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan.
“Tradisi Ngebur Telaga ini sudah berlangsung lama. Selain sebagai hiburan rakyat, kami juga ingin menunjukkan bahwa kemandirian pangan bisa diwujudkan dengan cara sederhana, yakni memanfaatkan potensi sumber daya desa untuk kepentingan bersama,” ungkap Dedy.
Selain itu, Ngebur Telaga juga menjadi daya tarik tersendiri bagi warga luar desa yang penasaran ingin menyaksikan tradisi unik ini. Tidak sedikit pengunjung yang datang untuk merasakan langsung sensasi menangkap ikan di telaga dengan cara tradisional.
Tradisi ini juga dikatakannya, bukan hanya soal hasil tangkapan ikan, tetapi juga tentang menjaga warisan leluhur, melestarikan alam, dan merawat rasa kebersamaan di tengah masyarakat. Seiring berjalannya waktu, Ngebur Telaga diharapkan terus lestari sebagai kearifan lokal yang membanggakan warga Lamongan.
Lebih dari itu, Ngebur Telaga kini mulai dilirik sebagai atraksi wisata budaya dan alam. Banyak pengunjung dari luar desa datang untuk ikut serta atau sekadar menyaksikan keramaian warga saat terjun ke telaga. Tradisi ini berpotensi menjadi daya tarik wisata lokal yang mampu menggerakkan ekonomi desa, mulai dari kuliner, oleh-oleh, hingga jasa transportasi.
“Kalau tradisi ini terus dikenalkan ke luar, tentu bisa menjadi magnet wisata desa. Harapannya bisa menambah pendapatan masyarakat sekitar, bukan hanya dari ikan, tapi juga dari kegiatan pendukung lainnya,” tutup Dedy.
Tidak ada komentar