Jumlah Pasien Tuberkulosis (TBC) di Indonesia Tahun 2025

jatimtodaycom
3 Okt 2025 07:45
2 menit membaca

Sidoarjo – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyebut jumlah pasien tuberkulosis (TBC) di Indonesia pada 2025 mencapai 1.090.000 orang.

“Prevalensi tuberkulosis di Indonesia itu tinggi, nomor dua setelah India. Penyakit ini sebetulnya lama, tetapi sempat terinterupsi waktu pandemi Covid. Karena itu, sekarang kita upayakan semaksimal mungkin percepatan penanganan tuberkulosis,” kata Pratikno saat meninjau Klinik TB Terpadu RS Siti Khodijah Sidoarjo, Kamis (2/10/2025).

Pratikno menjelaskan, pemerintah telah mengaktifkan Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) di delapan provinsi prioritas, mayoritas di Pulau Jawa. Program ini juga menyentuh level desa melalui Desa Siaga TB dengan dukungan beberapa kementerian, khususnya Kementerian Kesehatan.

“Oleh karena itu, kita hidupkan lagi TOSS, Temukan, Obati, Sampai Sembuh. Jadi kita tidak usah khawatir dengan tuberkulosis, tapi harus waspada. Yang penting bersedia skrining, temukan, obati, sampai sembuh. Obat pun tersedia di Puskesmas maupun rumah sakit,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tidak ada kenaikan kasus, tetapi penurunan masih belum signifikan. “Kenaikan tidak ada, tapi kita butuh penurunan yang lebih signifikan,” tegasnya.

Pratikno juga meminta agar masyarakat tidak memberikan stigma buruk kepada penderita TBC. “Penderita TB harus kita dukung. Kalau sudah diobati satu bulan, dia sudah tidak menular lagi. Walaupun pengobatannya mungkin butuh tiga bulan atau setengah tahun,” katanya.

Selain pengobatan, kata Pratikno, TBC erat kaitannya dengan lingkungan dan gizi penderita. “Pasien TB harus mendapatkan nutrisi yang baik. Rumahnya juga harus ada pencahayaan dan ventilasi yang baik. Orang-orang di sekitarnya juga harus punya daya tahan tubuh dengan asupan nutrisi yang lebih baik,” terangnya.

Data terakhir, menurut Pratikno, jumlah pasien TBC di Indonesia mencapai lebih dari satu juta orang. “1.090.000 data terakhir. Kita harapkan bisa turun secepat-cepatnya. Yang penting sekarang adalah penemuan kasus secepat-cepatnya, skrining secepat-cepatnya. Jangan memberikan stigma negatif kepada penderita TB. Itu masalah kita bersama yang harus dipecahkan bersama,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *