
Surabaya – Usai masa golden time berakhir, tim gabungan memutuskan melibatkan alat berat untuk membongkar reruntuhan gedung Pondok Pesantren Al Khoziny yang ambruk. Dalam pembongkaran ini, satu per satu jenazah korban akhirnya ditemukan, sehingga penanganan tragedi memasuki tahap evakuasi dan identifikasi korban meninggal.
Para jenazah dievakuasi menuju Rumah Sakit Bhyangkara HS Samsoeri Mertojoso Surabaya untuk menjalani rangkaian pemeriksaan demi mengungkap identitas korban.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Polisi M Khusnan menyebut, sebanyak delapan jenazah sudah diterima Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya, per Jumat (3/10/2025) malam.
“Kalau yang lima korban meninggal lebih dulu ditemukan di hari pertama kedua pencarian. Saat masa golden time berakhir kita putuskan membongkar reruntuhan dengan alat berat dan ditemukan delapan jenazah yang saat ini sedang identifikasi oleh Tim DVI,” katanya.
Dengan penemuan delapan jenazah, maka total korban meninggal sampai informasi ini disampaikan sebanyak 13 orang.
Sayangnya, pada hari pertama proses identifikasi jenazah di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya, belum satupun identitas korban berhasil terungkap.
Oleh sebab itu pihaknya dikatakan Khusnan, perlu data tambahan sebagai pembanding untuk mendalami kembali. Kemudian pemeriksaan data primer seperti susunan gigi hingga sidik jari juga dilakukan.
Namun Khusnan menyampaikan, pemeriksaan susunan gigi pada korban yang kebanyakan berusia 12 sampai 15 tahun tersebut juga sulit lantaran masih dalam masa pertumbuhan gigi. Pun dengan pemeriksaan sidik jari karena kondisi jasad mulai rusak oleh proses pembusukan.
Maka menurut Khusnan, jalan terakhir untuk mengungkap identitas para korban ialah melalui tes DNA.
“Apabila data antemortem tidak lengkap dan kondisi jenazah tidak memungkinkan identifikasi visual atau melalui sidik jari, maka tes DNA menjadi solusi terakhir. Tes DNA ini adalah metode yang diakui secara internasional dan tidak terbantahkan,” tutupnya.
Tidak ada komentar