
Surabaya – Pagi di Desa Popoh, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, selalu berjalan tenang. Burung-burung berkicau di pepohonan, anak-anak berseragam sekolah berlari kecil di jalanan desa, sementara orang dewasa sibuk memulai hari.
Namun, di sebuah rumah sederhana di seberang jalan, suasana damai itu berubah menjadi duka yang tak akan pernah dilupakan.
Di rumah itu tinggal ARR, bocah lelaki berusia tiga tahun yang dikenal ceria dan tak pernah kehabisan tawa. Setiap pagi, ketika kedua orang tuanya pergi bekerja, sang ayah mengelola usaha cucian motor dan ibunya menjadi pramuniaga, ARR biasa menghabiskan hari bersama kakek dan nenek.
Kamis (23/10/2025) pagi itu, kakek ARR berangkat lebih awal ke sawah. Tinggallah si kecil bersama nenek di rumah. Sambil mencuci pakaian di belakang, sang nenek masih bisa mendengar langkah kaki cucunya yang berlari di halaman depan, tanda bocah itu tengah bermain seperti biasa.
Namun, tak lama kemudian, suasana menjadi sepi. Tak ada lagi suara langkah kaki kecil, tak ada tawa yang biasanya riuh memecah pagi.
Sang nenek semula mengira cucunya sedang bermain sembunyi-sembunyi. Tapi setelah beberapa kali memanggil dan tak ada sahutan, rasa cemas mulai menyelimuti hatinya. Dengan tergesa ia berhenti mencuci, berkeliling mencari di dalam rumah, lalu keluar ke halaman depan.
Di sanalah tubuh mungil itu ditemukan. ARR tergeletak di tanah, hanya beberapa langkah dari kotak panel listrik milik PLN. Kaos biru dan celana pendek cokelat mudanya lusuh terkena tanah. Di telapak tangan kanannya tampak luka bakar menghitam. Bocah itu sudah tak lagi bernapas.
Tangisan pecah. Warga berdatangan, mencoba menolong meski semua sudah terlambat.
Kasi Humas Polres Blitar, Ipda Putut Siswahyudi, yang dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. “Nenek menemukan cucunya sudah dalam kondisi terlentang meninggal dunia di dekat Kotak Gardu Listrik PLN yang berada di depan halaman rumah pelapor,” tuturnya, Jumat (25/10/2025).
Menurut Putut, penyebab kematian diduga akibat tersengat listrik dari gardu yang tak terkunci. “Sebab kematian korban kurangnya pengawasan dari pihak keluarga korban. Lalu, Box Gardu PLN tidak dikunci oleh pihak PLN, sehingga mudah dibuka oleh siapapun,” ujarnya.
Polisi yang datang ke lokasi juga menemukan luka bakar di tangan kanan korban. “Saat ditemukan telapak tangan kanan korban ada luka bakar akibat tersengat arus listrik,” ungkapnya.
Sementara itu, keluarga yang larut dalam kesedihan memilih untuk tidak melakukan autopsi dan menyerahkan surat pernyataan resmi kepada pihak kepolisian.
Sore itu, rumah kecil di Desa Popoh diselimuti isak tangis. Kaos biru yang biasa dikenakan ARR kini terlipat rapi di pojok kamar. Tak ada lagi tawa kecil yang mengiringi pagi.
Kepergian ARR menjadi pelajaran pahit,bahwa bahaya listrik bisa datang diam-diam, bahkan di halaman rumah sendiri. Sebuah kehilangan yang seharusnya tak perlu terjadi, andai keamanan gardu listrik itu dijaga sebagaimana mestinya.
Tidak ada komentar