
Sebuah perjalanan seni berakhir di Gresik dengan cara yang tak biasa. Pameran seni rupa bertajuk “Laut Menelanmu di Ujung Dermaga” menjadi penutup program MTN Lab: Residensi Gresik, hasil kolaborasi Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya bersama Biennale Jatim XI.
Selama dua pekan, 33 peserta—terdiri dari 29 perupa dan 4 kurator muda dari berbagai kota di Jawa Timur—hidup bersama dalam ruang eksplorasi, berdiskusi, dan menciptakan karya di Gresik. Hasilnya, lahirlah puluhan karya dengan gagasan yang kuat, dipamerkan di dua ruang berbeda: Rumah Besar Kemasan dan Tujujati Art Space.
Di Rumah Besar Kemasan, tiga kelompok perupa menampilkan karya dengan tema: “Resistanciok”, “Siapa yang tahu jauhnya perjalanan, maka ia akan mempersiapkan diri”, serta “Sing Sisa, Sing Ngisa: Topografi Kerentanan”. Sementara kelompok keempat dengan tema “Tubuh Tumbuh dalam Ruang” dipresentasikan di Tujujati Art Space.
Bukan Sekadar Pameran
Direktur Artistik Biennale Jatim XI, Lucky Childa P., menyebut pameran ini bukan hanya ajang unjuk karya, melainkan ruang refleksi dan perjumpaan gagasan.
“Ini hasil pertemuan seniman dan kurator muda dari berbagai daerah. Bukan sekadar memamerkan karya, tapi menghadirkan proses, gagasan, eksplorasi, dan refleksi yang lahir selama residensi. Seni di sini menjadi ruang tumbuh bersama, saling belajar, dan saling menginspirasi,” ungkap Lucky, Selasa (16/9/2025).
Baginya, Biennale Jatim percaya bahwa seni adalah lokomotif perubahan. Melalui kolaborasi dengan MTN, kecepatan pergerakan itu bisa semakin terasa. “Kita sedang membangun jembatan antara generasi, antara institusi, dan antara ide-ide besar,” tambahnya.
Menyemai Talenta untuk Dunia
Dari perspektif nasional, MTN Lab: Residensi Gresik adalah bagian dari program prioritas Kementerian Kebudayaan. Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menekankan pentingnya memberi ruang bagi seniman muda.
“Seni rupa Indonesia harus terus dicintai di rumah sendiri, sekaligus tampil di panggung dunia melalui talenta-talenta mudanya yang luar biasa. Program ini mempersiapkan generasi muda seni budaya tidak hanya dengan pengalaman dan jejaring, tetapi juga eksposur menuju pentas internasional,” jelasnya.
Menurut Mahendra, residensi ini menjadi pintu untuk karier seni yang lebih terarah sekaligus menguatkan komitmen pemajuan kebudayaan. “Kita ingin seni Indonesia bisa menghadirkan inspirasi di tingkat global,” ucapnya.
Proses dan Dialog

Tak hanya menampilkan karya, pameran ini juga mengajak publik berdialog langsung dengan seniman dan kurator. Dengan begitu, proses kreatif tidak berhenti di ruang produksi, tetapi meluas hingga ruang apresiasi masyarakat.
Selama 1–15 September 2025, peserta residensi mendapatkan bimbingan dari tokoh-tokoh seni dan budaya seperti Jumaldi Alfi, FX Harsono, Alia Swastika, Nirwan Dewanto, Riksa Afiaty, hingga Syafiatudina. Mereka juga melakukan kunjungan ke galeri dan event seni di Surabaya, sembari mengerjakan proyek kreatif yang kemudian dipresentasikan dalam pameran penutup ini.
Pameran “Laut Menelanmu di Ujung Dermaga” menjadi bukti bahwa Gresik bukan hanya kota industri, tetapi juga bisa menjadi dermaga ide dan karya seni. Di sini, laut bukan sekadar metafora, melainkan ruang perjumpaan di mana talenta muda seni rupa Jawa Timur tumbuh, berlabuh, lalu bersiap berlayar ke panggung yang lebih luas.
Tidak ada komentar