
Gotrade menggelar The Roundtable, forum diskusi interaktif membahas strategi menghadapi dinamika pasar saham Amerika Serikat menjelang 2026. Kegiatan ini menghadirkan Investment Analyst Gotrade Indonesia, Muhammad Naufal Hammam dan Muhammad Gibran, sebagai narasumber untuk memberikan insight profesional kepada komunitas trader di Jawa Timur.
Head of Legal Gotrade Indonesia, Andika Firnada mengungkapkan, kemudahan akses terhadap saham global, khususnya pasar Amerika Serikat, telah berperan besar dalam mendorong literasi keuangan dan pertumbuhan investor di Indonesia.
Menurut Andika, hadirnya platform yang menyediakan akses ke saham Amerika, mulai dari yang terdaftar di New York Stock Exchange hingga Nasdaq, telah membuka peluang lebih luas bagi investor di Tanah Air.
“Literasi keuangan masyarakat kita sebenarnya sudah cukup bagus. Sekarang akses semakin terbuka, masyarakat tidak hanya bisa beli saham perusahaan Indonesia, tetapi juga saham-saham Amerika,” ujarnya, Jumat (12/12/2025).
Dia menilai, proyeksi makroekonomi pada tahun 2026 tanah air berjalan positif. Oleh sebab itu, Gotrade menempatkan Jawa Timur sebagai wilayah penting setelah Jakarta. Antusiasme itu terlihat dari jumlah peserta yang hadir dalam acara ini, mencapai sekitar 170 investor pengguna Gotrade dari berbagai kota.
Andika menyebut, edukasi merupakan fondasi utama bagi investor pemula agar bisa memahami analisis fundamental maupun teknikal dengan benar. Proses edukasi yang efektif kata dia, dimulai dari pemahaman produk investasi seperti saham dan ETF, lalu dilanjutkan dengan pemetaan profil risiko masing-masing.
“Tidak semua investor cocok dengan saham agresif. Kalau mereka risk averse, tentu pilihannya lebih ke saham blue chip atau yang anti siklis,” jelasnya.
Andika kemudian mengatakan, kesalahan paling umum yang dilakukan investor pemula adalah terjebak FOMO atau fear of missing out. Banyak investor ikut-ikutan membeli saham yang sedang ramai tanpa analisis mendalam, baik dari sisi fundamental maupun teknikal.
“Misalnya melihat semua orang beli Nvidia, ikut beli tanpa lihat kondisi. Akhirnya beli di pucuk, jual di bawah,” ujarnya.
Fenomena ini, lanjut dia, menjadi salah satu fokus edukasi Gotrade melalui analis yang hadir di acara tersebut. Mereka membahas berbagai situasi pasar, termasuk bagaimana kebijakan politik global seperti keputusan Donald Trump bisa memicu reaksi pasar yang signifikan.
Andika menyampaikan beberapa pesan penting kepada masyarakat agar lebih bijak dalam berinvestasi. Pertama, hindari FOMO karena itu dapat membuat investor mengambil keputusan tanpa kalkulasi. Kedua, kenali profil risiko agar porsi investasi sesuai dengan kemampuan dan karakter keuangan masing-masing. Dia juga menegaskan pentingnya menggunakan uang dingin, bukan dana kebutuhan harian atau bahkan dana pinjaman.
“Jangan sampai all-in lalu besoknya pinjol. Itu sama saja bunuh diri,” katanya.
Ketiga, masyarakat diminta lebih kritis dan waspada terhadap maraknya penipuan berkedok investasi yang sering mengatasnamakan platform resmi atau influencer.
“Cek dulu kebenarannya. Kalau ragu, hubungi platform resminya agar tidak terjebak scam,” tegas Andika.
Tidak ada komentar