
Ratusan jemaah Pondok Pesantren Al-Khoiriyah, Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, melaksanakan Salat Idul Fitri pada Kamis, 19 Maret 2026. Ibadah digelar di Masjid Nur Muhammad sejak pagi hari dengan suasana khidmat.
Sejak pukul 05.30 WIB, jemaah mulai berdatangan dan memadati area masjid. Mereka datang dari lingkungan pondok serta warga dari sejumlah desa di sekitar Kecamatan Sumbergempol.

Pelaksanaan Salat Idul Fitri dimulai sekitar pukul 06.30 WIB dan dipimpin langsung oleh pengasuh pondok pesantren. Seluruh rangkaian ibadah berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan.
Kapolsek Sumbergempol, AKP Moh Ansori, mengatakan pihaknya melakukan pengamanan untuk memastikan kegiatan berjalan lancar. Pengamanan difokuskan di area pondok pesantren yang menjadi satu-satunya lokasi pelaksanaan Salat Idul Fitri di wilayah tersebut pada hari ini.
“Pelaksanaan Salat Idul Fitri hari ini berlangsung di Pondok Pesantren Al-Khoiriyah, yang sebelumnya dikenal sebagai Yayasan Al-Muhdor,” ujar Ansori.
Ia menjelaskan, jumlah jemaah yang mengikuti Salat Ied sekitar 100 orang. Mereka berasal dari kalangan santri dan masyarakat sekitar.

Untuk menjamin keamanan, kepolisian menerapkan dua metode pengamanan, yakni terbuka dan tertutup. Langkah ini juga didukung personel dari Polres Tulungagung.
“Pengamanan dilakukan agar seluruh rangkaian ibadah berjalan aman dan kondusif,” jelasnya.
Usai pelaksanaan Salat Ied, jemaah membawa kenduri untuk didoakan bersama oleh imam. Makanan yang dibawa umumnya berupa hidangan lengkap dengan lauk ayam.
Pihak jemaah memilih tidak memberikan keterangan kepada awak media. Pengambilan gambar pun dibatasi dan hanya diperbolehkan dari bagian belakang area kegiatan.
Secara fisik, kompleks pondok pesantren memiliki ciri khas dengan kaligrafi berwarna emas di gerbang masuk bertuliskan “Madrasah Al-Khoiriyah” disertai kutipan Surah Al-Mukminun ayat 1 dan 2. Di bagian masjid juga terlihat ornamen Asmaul Husna serta menara tinggi dengan tulisan kalimat syahadat.
Di area teras pondok, terpajang foto tokoh ulama Habib Sayyid Ahmad bin Salim Al Muhdlor beserta leluhurnya. Sementara di ruang kelas, terlihat lambang Nahdlatul Ulama berukuran kecil, menandakan keterkaitan lembaga pendidikan formal dalam satu kawasan pondok pesantren tersebut.


Tidak ada komentar