Harmoni Warga Surabayan Lamongan Jaga Toleransi Meski Beda Lebaran

jatimtodaycom
20 Mar 2026 19:01
3 menit membaca

Lamongan – Desa Surabayan di Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, menjadi potret nyata kehidupan masyarakat yang majemuk namun tetap rukun dalam keseharian.

Di tengah perbedaan latar belakang organisasi keagamaan, warga desa ini justru menunjukkan bagaimana toleransi dapat tumbuh dan mengakar kuat dalam kehidupan sosial.

Mayoritas penduduk Desa Surabayan merupakan umat muslim dengan beragam afiliasi, mulai dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), hingga masyarakat umum yang tidak tergabung dalam organisasi tertentu. Perbedaan tersebut tidak pernah menjadi penghalang untuk hidup berdampingan secara damai.

Dalam aktivitas sehari-hari, warga saling berinteraksi tanpa sekat. Tradisi gotong royong masih terjaga, mulai dari kerja bakti lingkungan, kegiatan sosial, hingga perayaan hari besar keagamaan. Semua dilakukan bersama, tanpa memandang latar belakang kelompok.

Nilai-nilai kebersamaan itu kembali diuji saat momen Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026. Tahun ini, terdapat perbedaan waktu pelaksanaan salat Idul Fitri di Desa Surabayan. Warga Muhammadiyah melaksanakan salat Id pada hari Jumat, 20 Maret 2026. Sementara mayoritas warga lainnya mengikuti keputusan pemerintah di hari Sabtu, 21 Maret 2026.

Meski berbeda hari, suasana desa tetap berlangsung kondusif. Tidak terlihat adanya gesekan atau perdebatan yang memicu konflik. Justru, masing-masing kelompok saling menghormati pilihan yang diambil.

Saat warga Muhammadiyah lebih dulu merayakan Lebaran, masyarakat lainnya tetap menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk hingga hari terakhir Ramadan. Warga yang telah berlebaran pun menjaga sikap, tidak melakukan hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah warga lain.

Sebaliknya, ketika kelompok lain melaksanakan salat Id pada keesokan harinya, warga Muhammadiyah turut menjaga ketertiban lingkungan. Mereka bahkan berperan aktif membantu menciptakan suasana aman dan nyaman selama pelaksanaan ibadah berlangsung.

Kehangatan juga terasa dalam tradisi silaturahmi. Perbedaan hari raya tidak menghalangi warga untuk saling berkunjung, berjabat tangan, dan bermaafan. Rumah-rumah tetap terbuka bagi siapa saja, mencerminkan kuatnya ikatan sosial di desa tersebut.

Ismawan, selaku Pengurus Ranting Muhammadiyah Desa Surabayan menyampaikan, perbedaan dalam penentuan hari raya merupakan hal yang sudah biasa terjadi dan tidak perlu dibesar-besarkan.

Menurutnya, kunci utama menjaga keharmonisan adalah komunikasi dan saling pengertian antarwarga. Dengan cara itu, setiap perbedaan dapat disikapi dengan bijak tanpa menimbulkan perpecahan.

“Perbedaan ini sudah menjadi bagian dari dinamika yang ada. Yang penting adalah bagaimana kita tetap menjaga persaudaraan dan saling menghormati,” ujarnya.

Ia menambahkan, warga Muhammadiyah di Desa Surabayan sebagai mayoritas tetap menjalin hubungan baik dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk dalam momen Lebaran yang sarat makna kebersamaan.

Bagi warga Desa Surabayan, Idul Fitri bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat tali persaudaraan. Perbedaan justru menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah realitas yang harus dirawat bersama.

Di tengah berbagai tantangan sosial yang kerap memicu perpecahan, Desa Surabayan hadir sebagai contoh sederhana bahwa harmoni dapat tercipta jika masyarakat mengedepankan sikap saling menghargai.

Kisah dari desa ini menjadi pesan penting bahwa toleransi tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Surabayan pun membuktikan, perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan peluang untuk semakin mempererat kebersamaan.

“Perbedaan itu indah, karena justru mempererat rasa persaudaraan karena saling melengkapi,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *