
Tulungagung – Menjelang Hari Raya Idul Adha, pasar ternak mulai menggeliat. Namun, tidak semua peternak ikut menikmati berkah momentum kurban tahun ini. Di tengah harga sapi premium yang terus menanjak, sapi hidup kelas biasa justru masih jalan di tempat.
Kondisi itu terlihat di Pasar Hewan Terpadu (PHT) Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, Rabu (20/5). Sejumlah peternak mengeluhkan harga sapi biasa yang tak kunjung bergerak naik meski permintaan menjelang Idul Adha mulai muncul.
Andi, salah seorang pedagang sapi yang rutin membawa ternaknya menggunakan truk ke pasar tersebut, mengaku situasi saat ini cukup berat bagi peternak kecil. Di saat harga daging sapi di tingkat konsumen relatif stabil, harga sapi hidup justru belum memberi ruang keuntungan yang lebih baik.
“Kalau daging sapi ini ya alhamdulillah lah bisa dirasakan stabil. Tapi kalau harga sapi hidup ini harganya nggak naik. Hari ini harga sapi, aduh, menangis ini,” ujarnya.
Harapan peternak untuk mendapatkan tambahan pendapatan menjelang Idul Adha pun belum sepenuhnya terwujud. Biasanya, momen kurban menjadi waktu terbaik untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Namun tahun ini, peluang tersebut tidak dirasakan merata.
Di sisi lain, pasar justru memperlihatkan tren berbeda untuk kategori sapi premium. Jenis sapi berbobot besar seperti Limosin dan Simmental tetap menjadi primadona. Harganya terus merangkak naik seiring tingginya permintaan dari pasar kelas atas.
Fenomena itu memperlihatkan adanya jurang yang semakin lebar antara pasar ternak rakyat dengan segmen premium. Pasar Hewan Tulungagung sendiri dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan ternak terbesar di kawasan selatan Jawa Timur.
Beragam jenis sapi diperdagangkan di lokasi tersebut, mulai Brangus, Peranakan Ongole (PO), Brahman hingga Belgian Blue.
Meski pilihan ternak cukup beragam, sapi Limosin dan Simmental tetap menjadi penguasa pasar premium.
Slamet, peternak sekaligus pedagang asal Kecamatan Kauman, menyebut pasar sapi premium memiliki karakter berbeda. Permintaannya cenderung stabil dan tidak terlalu terdampak kondisi ekonomi masyarakat secara umum.
“Beda jauh sama bulan lalu. Kalau yang jenis ini harganya naik. Naik terus ini,” katanya.
Menurut Slamet, sapi Limosin berbobot 350 hingga 450 kilogram saat ini dibanderol sekitar Rp 25 juta hingga Rp 35 juta per ekor.
Sementara ukuran jumbo berbobot lebih dari 500 kilogram bisa menyentuh angka Rp 45 juta sampai Rp 65 juta.
“Limosin itu pokoknya kalau gemuk ya mahal,” tambahnya.
Kenaikan harga juga terjadi pada sapi Simmental. Untuk kategori pedet atau anakan, harga pasar kini berada di kisaran Rp 10 juta hingga Rp 14 juta. Sedangkan sapi dewasa siap potong berkisar Rp 25 juta sampai Rp 40 juta per ekor.
Pergerakan harga tersebut menunjukkan perubahan pola pasar menjelang Idul Adha. Permintaan sapi premium masih kuat, sementara sapi kelas biasa bergerak lebih lambat karena daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Situasi itu membuat peternak kecil menjadi kelompok paling rentan menghadapi dinamika pasar.
Di luar persoalan harga, pedagang ternak juga menghadapi tantangan lain seperti cuaca dan kesehatan hewan. Hujan yang turun sewaktu-waktu dapat memengaruhi aktivitas perdagangan maupun kondisi fisik sapi di pasar.
Karena itu, peternak kini lebih ketat menjaga kondisi ternak sebelum dibawa ke lokasi penjualan.
Andi memastikan sapi yang dibawanya telah mendapatkan perawatan kesehatan dan vaksinasi mandiri agar tetap sehat dan menjaga kepercayaan pembeli.
“Meskipun dari kampung, sapi-sapi ini semuanya aman,” pungkasnya.
Tidak ada komentar