
Surabaya – Deteksi dini terhadap kadar gula dalam tubuh sangat penting dilakukan agar terhindar dari penyakit diabetes yang menyebabkan komplikasi serius pada jantung maupun ginjal. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan edukasi kesehatan bertajuk Silent but Deadly: Serangan Jantung pada Penderita Diabetes yang digelar Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Siloam Hospitals Surabaya, Sabtu (20/6/2026).
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Prof Yudi Her Oktaviono, SpJP(K) FIHA menjelaskan, penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular. Apalagi serangan jantung pada pasien diabetes sering kali tidak diawali gejala khas seperti nyeri dada.
Menurutnya, kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf yang berfungsi mengirimkan sinyal nyeri. Akibatnya, ketika terjadi penyumbatan pada pembuluh darah koroner, pasien tidak selalu merasakan tanda peringatan yang jelas.
“Pasien diabetes dapat mengalami risiko kardiovaskular tanpa gejala yang nyata. Karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala dan pengelolaan faktor risiko tidak boleh diabaikan, meskipun pasien merasa sehat,” ungkap Prof Yudi.
Ia menjelaskan, diabetes juga mempercepat proses aterosklerosis atau penumpukan lemak dan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penyempitan hingga penyumbatan pembuluh darah koroner yang berujung pada serangan jantung maupun stroke.
Sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit kardiovaskular, Prof Yudi menekankan pentingnya pengelolaan kolesterol melalui prinsip The Sooner, The Lower, The Better, yakni menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL-C) sedini mungkin, mencapai target yang direkomendasikan tenaga kesehatan, dan mempertahankannya secara konsisten.
Pada sesi berikutnya, dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi metabolik dan diabetes, Dr dr Soebagijo Adi Soelistijo SpPD Subsp EMD(K) FINASIM FACP menyoroti risiko penyakit ginjal yang menjadi salah satu komplikasi utama diabetes.
Menurutnya, kerusakan ginjal akibat diabetes sering berkembang secara perlahan tanpa gejala khusus sehingga banyak pasien baru mengetahui kondisinya ketika fungsi ginjal sudah menurun cukup jauh.
“Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak jaringan ginjal secara bertahap, seperti filter yang aus seiring waktu. Karena pasien sering tidak merasakan kelainan pada tahap awal, pemeriksaan ginjal sebaiknya dilakukan secara proaktif, bukan menunggu sampai muncul gejala,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, terdapat tiga pemeriksaan penting yang perlu dilakukan secara rutin oleh pasien diabetes, yakni HbA1c untuk memantau kontrol gula darah, UACR untuk mendeteksi kebocoran protein dalam urine, dan eGFR untuk menilai kemampuan ginjal dalam menyaring darah.
Direktur Siloam Hospitals Surabaya, dr Maria Magdalena Padmidewi SpPK menegaskan bahwa edukasi kesehatan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan komplikasi diabetes.
“Edukasi diabetes tidak boleh berhenti pada penurunan kadar gula darah saja. Pasien dan keluarga perlu memahami bahwa diabetes dapat secara diam-diam memengaruhi jantung, ginjal, pembuluh darah, dan kualitas hidup secara keseluruhan,” kata dia.
Menurut Maria, Siloam Hospitals Surabaya berkomitmen mendukung diagnosis dini, edukasi pasien, serta layanan kesehatan terpadu melalui kolaborasi tim dokter multidisiplin dan fasilitas medis yang komprehensif.
Sementara itu, Medical Affairs Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr Haritsah mengatakan, bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada penyediaan produk farmasi, tetapi juga berupaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui edukasi kesehatan yang berkelanjutan.
“Selain menghadirkan produk-produk farmasi, kami juga sangat peduli terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Edukasi seperti ini memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit kronis, termasuk diabetes dan gangguan ginjal,” tandasnya.
Ia menambahkan, Daewoong terus mendukung pengembangan terapi inovatif untuk penanganan diabetes dan penyakit ginjal, termasuk terapi kombinasi yang mengandung rosuvastatin serta obat golongan SGLT2 inhibitor yang saat ini direkomendasikan bagi pasien diabetes dengan risiko maupun gangguan fungsi ginjal.
“Golongan terapi ini terbukti memberikan manfaat bagi pasien diabetes sekaligus membantu melindungi fungsi ginjal,” ujarnya.
Selain menghadirkan terapi farmasi, Daewoong juga mengembangkan berbagai alat kesehatan yang telah digunakan di Korea Selatan, termasuk stent atau ring jantung. Perusahaan juga menyediakan produk perawatan luka bagi pasien diabetes yang rentan mengalami luka kronis dan sulit sembuh.
Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi metabolik dan diabetes, Dr dr Soebagijo Adi Soelistijo SpPD Subsp EMD(K) FINASIM FACP kembali mengingatkan bahwa rendahnya tingkat deteksi dini masih menjadi tantangan besar dalam pengendalian diabetes di Indonesia. Banyak pasien baru datang ke fasilitas kesehatan setelah komplikasi terjadi, baik pada ginjal, jantung, maupun organ lainnya.
“Tantangan utama kita adalah deteksi dini yang masih belum optimal. Sebagian besar pasien datang ketika sudah muncul komplikasi, baik pada ginjal maupun organ lainnya,” ucapnya.
Karena itu, ia menilai kolaborasi antara rumah sakit, tenaga kesehatan, industri farmasi, pemerintah, dan masyarakat sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran, memperluas akses pemeriksaan kesehatan, serta memastikan pasien mendapatkan terapi yang tepat sejak dini.
Melalui sinergi tersebut, angka komplikasi akibat diabetes dan penyakit ginjal diharapkan dapat ditekan sehingga kualitas hidup pasien dapat terus meningkat.
Tidak ada komentar