22 Tahun Jadi Pejuang Garis Dua, Pasutri Asal Sumenep Dikaruniai Bayi Kembar Lewat Morula Surabaya

jatimtodaycom
25 Jul 2026 15:20
4 menit membaca

Surabaya – Setelah 22 tahun menanti kehadiran buah hati, pasangan suami istri Yusuf Santoso dan Mina akhirnya merasakan kebahagiaan yang selama ini hanya mereka impikan. Pasangan asal Sumenep, Madura, itu dikaruniai bayi kembar, Ryan dan Raina, setelah menjalani program fertilisasi in vitro (IVF) di Morula IVF Surabaya.

Tangis kedua bayi yang lahir pada 2 Juni 2026 menjadi penanda berakhirnya penantian panjang yang diwarnai berbagai ikhtiar, doa, hingga rasa putus asa. Bagi Yusuf dan Mina, momen tersebut bukan sekadar kelahiran dua anak, tetapi jawaban atas harapan yang mereka jaga selama lebih dari dua dekade.

“Kami tidak menyangka bisa seperti ini. Alhamdulillah, akhirnya Allah memberikan kepercayaan kepada kami,” kata Yusuf Santoso, Sabtu (25/7/2026).

Yusuf menuturkan, sejak menikah pada usia muda, ia dan sang istri telah berupaya mendapatkan keturunan dengan berbagai cara. Mereka berkonsultasi ke sejumlah dokter, mencoba pengobatan alternatif, hingga mendatangi orang-orang yang direkomendasikan kerabat. Namun, seluruh usaha tersebut belum membuahkan hasil.

“Kami hampir pasrah. Bahkan sempat berpikir mungkin memang belum rezeki kami punya anak,” kenangnya.

Titik balik datang ketika Yusuf mendengar kisah tetangganya di Sumenep, Pak Somidi, yang berhasil memperoleh keturunan melalui program bayi tabung di Morula IVF Surabaya bersama dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas, dr. Benediktus Arifin atau yang akrab disapa dr Benny.

Pengalaman itu menjadi penyemangat bagi Yusuf untuk kembali mencoba.

“Kalau beliau bisa, kenapa saya tidak mencoba? Dari situ saya mengajak istri berangkat ke Surabaya,” ujarnya.

Keputusan tersebut tidak mudah. Setiap kali menjalani pemeriksaan dan terapi, Yusuf dan Mina harus menempuh perjalanan sekitar empat jam dari Sumenep menuju Surabaya. Namun, jarak yang jauh tak menyurutkan langkah mereka untuk terus berikhtiar.

Di balik perjuangan itu, kondisi medis Mina ternyata menjadi tantangan tersendiri. dr Benny mengungkapkan, hasil pemeriksaan menunjukkan kadar Anti-Müllerian Hormone (AMH) Mina hanya 0,1. Padahal, kadar AMH normal yang mencerminkan cadangan sel telur perempuan umumnya berada di kisaran 2 hingga 3.

“AMH 0,1 berarti cadangan telurnya sangat rendah, sekitar 15 sampai 20 kali di bawah normal. Kondisinya bahkan sudah mengarah ke premenopause,” jelas dr Benny.

Dengan kondisi tersebut, peluang kehamilan secara medis tergolong kecil. Sebelum menjalani program IVF, Mina juga harus menjalani tindakan laparoskopi untuk memperbaiki saluran telurnya.

Selama kurang lebih delapan bulan, tim Morula IVF Surabaya mendampingi seluruh proses terapi. Dari rangkaian prosedur tersebut, hanya diperoleh dua embrio berkualitas baik yang kemudian ditanam.

“Kami menanam dua embrio pada hari kelima. Alhamdulillah, keduanya berkembang menjadi kehamilan,” ungkap dr Benny.

Kehamilan kembar di usia Mina yang telah menginjak 41 tahun pun membutuhkan pemantauan intensif. Meski sempat menjalani perawatan saat usia kehamilan memasuki tujuh hingga delapan bulan, kondisi ibu dan janin berhasil dipertahankan hingga usia kehamilan sekitar 36-37 minggu.

Pada 2 Juni 2026, Ryan lahir lebih dahulu, disusul sang adik perempuan, Raina. Tangis keduanya menjadi momen yang menghapus penantian Yusuf dan Mina selama 22 tahun.

Bagi dr Benny, kasus tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan sepanjang menangani pasien fertilitas.

“Kasus dengan penantian 22 tahun, AMH 0,1, kemudian berhasil hamil bayi kembar, ini pertama kali saya alami,” ujarnya.

Menurut dr Benny, kisah Yusuf dan Mina menunjukkan bahwa peluang mendapatkan kehamilan tetap ada meski kondisi pasien tidak ideal. Namun, ia mengingatkan pasangan yang merencanakan kehamilan agar tidak menunda pemeriksaan kesuburan, terutama setelah usia memasuki 35 tahun.

“Semakin bertambah usia, kualitas sel telur dan sperma akan menurun. Jangan ragu berkonsultasi agar peluang mendapatkan kehamilan tetap terjaga,” katanya.

Kini, rumah Yusuf dan Mina yang selama bertahun-tahun terasa sunyi berubah dipenuhi tangisan dan tawa dua bayi mungil. Kesibukan menggendong, menidurkan, hingga bergantian mengganti popok menjadi rutinitas baru yang mereka syukuri setiap hari.

Bagi Yusuf, seluruh perjuangan itu terbayar lunas. Ia pun hanya memiliki satu pesan bagi pasangan yang masih berjuang mendapatkan buah hati.

“Tetap semangat. Jangan menyerah.”

Kalimat singkat itu menjadi penutup dari perjalanan panjang selama 22 tahun. Sebuah kisah yang menunjukkan bahwa di balik kemajuan teknologi reproduksi, harapan tetap dapat tumbuh selama ikhtiar terus dilakukan dan keyakinan tidak pernah padam.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *