Mahasiswa Untag Surabaya Ciptakan Alat Detektor Overheat Motor Berbasis IoT

jatimtodaycom
13 Agu 2026 15:53
2 menit membaca

Surabaya – Pengalaman sepeda motornya mengalami overheat mendorong mahasiswa Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Fendi Febianto Ahmad, mengembangkan alat pemantau suhu mesin berbasis Internet of Things (IoT).

Inovasi itu menjadi tugas akhir Fendi berjudul “Monitoring Suhu Blok Mesin Sepeda Motor Menggunakan Deret Sensor Suhu dan Berbasis IoT.” Ia mengembangkan perangkat tersebut untuk membantu pengendara mengetahui kenaikan suhu mesin sebelum kondisi overheat terjadi.

Sebagai penghobi otomotif, Fendi melihat sistem peringatan suhu pada sejumlah sepeda motor masih terbatas. Pengendara umumnya baru mendapat peringatan ketika suhu mesin sudah mencapai kondisi yang berpotensi menyebabkan overheat.

“Saya penghobi otomotif, khususnya sepeda motor. Saya melihat pada sepeda motor sekarang sudah terdapat indikator pendeteksi suhu overheat, tetapi biasanya hanya berupa lampu. Jadi, kalau sudah overheat baru indikator menyala,” ujar Fendi saat ditemui di kampusnya, Rabu (12/8/2026).

Untuk memantau kondisi mesin lebih dini, Fendi menggunakan tiga jenis sensor, yakni PT100, termokopel tipe K, dan MLX90614. Sensor tersebut digunakan untuk mengukur suhu coolant serta permukaan blok mesin dengan metode kontak maupun nonkontak.

Perangkat buatannya juga dilengkapi layar LCD dan buzzer sebagai sistem peringatan. Selain itu, Fendi mengintegrasikan sistem IoT melalui Blynk sehingga kondisi suhu dapat dipantau melalui ponsel.

Ketika suhu mencapai batas tertentu, sistem akan memberikan peringatan melalui suara, tampilan pada layar, dan notifikasi pada ponsel. Dengan demikian, pengendara dapat mengetahui perubahan suhu mesin tanpa harus menunggu indikator overheat menyala.

Ide pengembangan alat itu berawal dari pengalaman Fendi ketika sepeda motornya mengalami overheat hingga mogok.

“Motor saya pernah overheat, kemudian motor mogok dan mati. Dari situ saya berpikir, kita kadang lupa dengan kendaraan, lupa mengecek atau servis,” ungkapnya.

Dalam pengujiannya, Fendi menggunakan Honda PCX 150. Hasil pengujian menunjukkan kondisi overheat mulai terdeteksi ketika suhu mesin mencapai sekitar 100 derajat Celsius.

Menurut Fendi, kondisi overheat tidak seharusnya dibiarkan karena dapat merusak komponen mesin dan berpotensi membahayakan pengendara. Karena itu, ia ingin sistem yang dikembangkan mampu memberikan informasi sebelum mesin mencapai kondisi tersebut.

“Poinnya saya ingin mengembangkan alat yang sudah ada supaya sebelum terjadinya overheat kita sudah tahu suhunya berapa dan kondisi normalnya seperti apa,” katanya.

Fendi menilai perangkat tersebut dapat dimanfaatkan pemilik sepeda motor yang belum memiliki indikator suhu digital, terutama kendaraan kelas entry level.

Ia berharap inovasi yang dikembangkan melalui tugas akhirnya tidak berhenti sebagai proyek akademik.

“Perangkat tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi alat yang praktis, terjangkau, dan mudah digunakan untuk membantu pengendara mendeteksi kenaikan suhu mesin sejak dini,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *